Kamis, 01 Desember 2011

Ringkasan Referensi Perjanjian Baru Tentang Musik

Pada masa menjelang akhir Perjanjian Lama, dan memasuki zaman Kristus, bangsa Yahudi membiarkan penyembahan mereka berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi sangat formal. Inilah masa-masa kemurtadan dan ketidakpercayaan, sehingga penyanyi dan alat-alat musik tidak digunakan sebagai sarana penyembahan. Hanya firman yang dilagukan oleh pendeta dan lagu-lagu yang didendangkan oleh pemimpin biduan (penyanyi profesional) saja yang terdengar di dalam gereja.

Karena para penyembah berhala menggunakan alat-alat musik untuk penyembahan, maka mereka dilarang oleh kaum Farisi. Hal ini terjadi setelah penghancuran Bait Allah pada tahun 70 SM. Secara simbolis, Paulus juga berbicara tentang musik -- "... suara gong dan gemerincingnya canang." Selama berabad-abad, banyak terjadi kontroversi di dalam gereja tentang penggunaan alat musik dan penyanyi di dalam kebaktian penyembahan.

Banyak petunjuk penting tentang musik di dalam Kitab Perjanjian Baru. Kita juga perlu mempertimbangkan beberapa hal bila kita ingin mempelajari musik dari Alkitab:

Kita harus selalu menganggap Alkitab sebagai satu buku yang utuh. Kitab Perjanjian Baru adalah penggenapan dari Kitab Perjanjian Lama. Paulus mengatakan kepada Timotius, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2Timotius 3:16) Saat Paulus menulis kepada Timotius, Perjanjian Baru belum ditulis -- Paulus berbicara tentang Perjanjian Lama.

Sejauh pembicaraan berkisar tentang penyembahan dan musik, dasar untuk pelajaran dan contoh ditulis cukup memadai dalam Perjanjian Lama -- dan di dalam Perjanjian Baru akan ditambahkan beberapa aspek.

Jelas sekali bahwa Daud menerima wahyu Ilahi tentang musik yang kita pakai dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam hubungan kita dengan Allah. Kitab Perjanjian Baru menunjukkan tentang apa saja yang telah diwahyukan kepada Daud dan meneruskannya.

Sorakan, nyanyian, tarian, tepuk tangan, angkat tangan, nyanyian nubuatan tidak berhenti dengan kelahiran Kristus. Ungkapan perasaan seperti itu bukan untuk orang-orang tertentu yang mempunyai 'dispensasi', melainkan untuk siapa saja. Kita bisa meneruskan hal ini dan apa saja yang telah Tuhan wahyukan di dalam Perjanjian Baru.

Kisah Para Rasul 15:16: "Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan."

Kisah Para Rasul 24:14: "Tetapi aku (Paulus) mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi."

Seperti yang telah kita lihat, cara-cara penyembahan di dalam hukum Taurat dan kitab para nabi terpusat pada tabernakel Daud. Itulah pusat pewahyuan dari pujian dan penyembahan dalam Alkitab. Paulus kemudian menyatakan bahwa dia menyembah Tuhan dengan menggunakan prinsip-prinsip Daud. Oleh karena Roh Kudus memberi inspirasi kepada Perjanjian Baru, pengertian dasar tentang kebebasan untuk menyanyi, bermain musik, menari, bersujud di hadapan Allah, mengangkat tangan, bertepuk tangan, dan sebagainya hanya ditekankan seperti yang mereka terapkan pada pemikiran khusus dari para penulis Kitab Perjanjian Baru.

Jika kita bisa mempelajari tabernakel Musa dan menerapkan semua cara yang ada di sana dalam kehidupan orang percaya, (suatu pengajaran tentang tabernakel Musa mengungkapkan kuasa kebenaran bagi gereja dewasa ini, maka kita pun bisa melihat bahwa musik dan penyembahan diungkapkan secara indah sekali dalam tabernakel Daud.

Matius 26:30; Markus 14:26

Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.

Sungguh luar biasa jika kita berpikir bahwa sebelum Yesus pergi menggunakan waktu-waktu terbaik-Nya untuk pelayanan, Dia memperkuat diri-Nya sendiri dengan nyanyian. Mungkin Dia menyanyikan Mazmur. Yang pasti, Dia menyanyikan Mazmur 113-118 setelah perjamuan Paskah.

Di dalam bahasa Yunani kata "humneo" (dari kata humnos) berarti nyanyian pujaan yang ditujukan untuk Allah.

Musik juga digunakan untuk perayaan, perjamuan, perkabungan, dan pesta-pesta (Matius 9:23; Matius 6:2; Lukas 15:25; 1Korintus 13:1).

Lukas 15:25

Ada musik dan tarian saat anak yang hilang kembali. Inilah gambaran dari gereja yang menaikkan pujian, tarian, dan kesukacitaan pada jiwa-jiwa yang kembali kepada Kristus. Kita tidak bisa hanya mengambil bagian pertama saja dari cerita itu dan menerapkannya dalam kehidupan kita saat ini -- kita harus menerima bahwa Allah menyucikan juga nyanyian dan tarian.

Kisah Para Rasul 16:25

"Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah ..." Hasilnya sungguh luar biasa. Allah bertakhta di atas puji-pujian yang menyebabkan gempa bumi besar menggoncangkan penjara.

Mereka dibebaskan, dan kepala penjara bersama seluruh keluarganya menerima Kristus. Inilah kisah besar tentang kekuasaan Allah di tengah-tengah puji-pujian gereja. Bila orang-orang melihat dan mendengar lagu-lagu pujian yang dinamis pada zaman sekarang, mereka akan datang kepada kita dan berkata, "Apa yang harus kukerjakan agar aku bisa diselamatkan?" (lihat juga Mazmur 40:4)

1 Korintus 14:15,26

"Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku."

Banyak gereja yang menyebut hal tersebut 'memuji di dalam Roh'. Pandangan tersebut tidak alkitabiah, dan merupakan konotasi yang salah. Paulus berbicara tentang pujian dengan bahasa yang tidak kita mengerti, misalnya bahasa lidah -- atau bahasa yang kita kenal, misalnya bahasa Indonesia. Kita tidak bisa mengatakan seseorang 'di dalam roh' hanya agar kita bisa memberinya sebuah nama.

Kita berada 'di dalam roh' bila kita berjalan menurut prinsip- prinsip rohani. Setiap lagu yang kita nyanyikan dapat kita katakan 'di dalam roh', jika kita menyanyikan mazmur, himne, atau lagu-lagu rohani baik di tempat kerja maupun di gereja. Lagu 'di dalam roh' bukan karena bentuk nyanyian itu, melainkan karena kita berjalan di dalam roh.

Seluruh surat Kolose pasal 3 menjelaskan tentang prinsip-prinsip 'gaya hidup rohani':

Bangkit bersama Kristus
Senang akan perkara-perkara yang di atas
Hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah
Jangan saling mendustai
Mengenakan manusia baru
Penuh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran, saling mengampuni
Damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita
Bersyukur senantiasa
Perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kita

Setelah kita melakukan prinsip-prinsip gaya hidup rohani, barulah kita hidup 'di dalam roh'. Jadi, hidup dalam roh adalah bukan saat kita menyanyi dengan roh dan akal budi.

Kita perlu bertumbuh semakin dewasa dan matang menurut prinsip-prinsip di atas sehingga kita dapat berfungsi di dalam pelayanan kita, dengan pandangan yang baru setiap saat pagi maupun malam. Penyembahan dan pelayanan kita menjadi aliran yang segar dalam hubungan kita dengan Allah ataupun sesama. Janganlah nyanyian kita menjadi nyanyian yang 'super rohani'. Namun, biarlah kita bertindak dengan penuh iman dan penyembahan.

Kolose 3:16; Efesus 5:19

Orang Kristen mula-mula memakai Mazmur dari Perjanjian Lama untuk memuji Tuhan (Matius 26:30; Markus 14:26; 1 Korintus 14:26; Roma 15:9).

Kata Mazmur dalam bahasa Yunani disebut 'Psalmos' -- yang berarti memukul atau mengetuk-ngetuk dengan jari pada sebuah alat. Misalnya: suatu nyanyian kudus yang diiringi dengan alat musik.

Himne -- merupakan lagu gubahan dari Perjanjian Baru. Bukan berarti lagu-lagu yang kita miliki sekarang ini (Paulus tidak mengenal Isaac Watts atau Wesley), melainkan setiap lagu yang di dalamnya mengandung pesan Kristus dan prinsip-prinsip Perjanjian Baru.

Kata Yunani, 'Humnos', berarti nyanyian pujian yang ditujukan kepada Allah. Nyanyian rohani -- suatu nyanyian spontanitas untuk memuji Allah, atau lagu yang mengungkapkan hati Allah di tengah-tengah umat-Nya (nubuatan).

Kata Yunani, 'Pneumatikos ode', berarti suatu ungkapan yang hanya digunakan setelah peristiwa Pentakosta untuk menyatakan vokal yang berasal dari Roh Kudus.

Mazmur pujian dari Perjanjian Lama yang masih relevan dengan gereja pada saat ini adalah himne (nyanyian gubahan yang mengambil pokok pikiran dari kebenaran dalam Perjanjian Baru -- ini juga diterapkan dalam koor kita) dan nyanyian-nyanyian rohani (lagu-lagu spontanitas seperti The Song of The Lord).

Kedua jenis lagu yang terdapat di dalam Perjanjian Baru tersebut harus ditambahkan pada pelayanan musik yang telah ada dalam Alkitab.

Ibrani 2:12

Kristus menyanyikan pujian kepada Allah di tengah jemaat gereja-Nya. (Di dalam Amplified Version diterjemahkan di tengah jemaat yang menyembah-Nya, Mazmur 22:22)

Yakobus 5:13

Kita dianjurkan untuk menyanyi dengan iringan musik jika kita sedang bersukacita (Amsal 17:22).

Wahyu 5: 8-10

Suatu nyanyian baru sedang dinyanyikan di surga (dengan alat musik). Dalam tabernakel Daud, ada dua puluh empat orang penyanyi dan pemain musik, dan dua puluh empat tua-tua yang terlibat dalam penyembahan di depan tahta.

Wahyu 4:1-5

Lagu baru disebutkan lagi. Mungkin gereja harus 'mengetuk' pintu surga dan mengalirkan lagu baru ke gerejanya. Mungkin ada dimensi lain dalam musik yang perlu kita dapatkan. Mungkin itu berupa melodi, harmoni, atau irama yang belum kita dengar sebelumnya. Paulus berbicara tentang 'suara tertentu' (1 Korintus 14:7), dan mungkin saja struktur musik dari suara ini dan bahkan musik dari surga sama seperti yang kita kenal saat ini. Namun, mungkin ada pengurapan yang hanya dapat diterima oleh orang-orang yang sudah dikuduskan dan disatukan. Sungguh menyenangkan membayangkan bahwa segala sesuatu mungkin di dalam pengurapan Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar